Import Bukan Pilihan Bijak

051120121410

051120121410
Oleh Kuntoro WS

Gonjang ganjing meroketnya harga daging sapi, bawang merah dan bawang putih, semakin membuat gusar masyarakat dan para pengambil kebijakan serta pihak-pihak yang selama ini mengkritisi kebijakan pemerintah. Solusi atau bukan, banyak wacana yang merebak, dari yang bersikfat spekulasi hingga instan.

Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib para petani yang sekaligus sebagai pelaku atas deregulasi kebijakan serta sebagai pihak yang selalu menikmati buah simalakama terlebih dahulu. Suka tidak suka, petani kita yang jadi korban ketika kebijakan-kebijakan diterapkan dengan sisi yang keliru. Suka atau tidak suka petani kita juga yang akan merasakan dampak jika pemerintah salah menerapkan kebijakan. Padahal diakui atau tidak negara kita adalah negara agraris, yang notabene petani sebagai komponen mayoritas yang harus diperhatikan serta dilindungi oleh pemerintah dalam pengambilan kebijakan normalisasi harga komoditi pertanian.

Berdasarkan data, keperluanan bawang putih secara nasional mencapai 400.000 ton setiap tahun; sekitar 320.000 ton dipenuhi dari impor, sementara produksi dalam negeri rata-rata 14.200 ton pertahun. Sedangkan bawang merah, 3 bahakan 4 kali lebih banyak kuota yang diperlukan untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Telinga kita terlalu bising rasanya, karena dapat dipastikan, tiap terjadi kelangkaan komoditas pangan berujung kenaikan harga tidak terkendali, hampir selalu diatasi pemerintah secara instan dengan membuka kran impor. Hal ini berujung pada nasib yang kurang mengadvokasi kepentingan para petani dan peternak kita jangankan menguntungkan, keluar dari zona break event poin ongkos produksinya pun hanya sebatas mimpi.

Gembar-gembor tentang langkanya bibit sapi, bawang merah atau bawang putih, selalu dikaitkan dengan pilihan “impor”. Paradigma seperti ini yang seharusnya ditepis, agar ada keberpihakan dari para pengambil kebijakan untuk menyelamatkan pertanian serta peternakan lokal komoditi. Seharusnya jika memang kesemuanya ingin seimbang, langkah-langkah ilmiah mutlak harus dilaksanakan bagi perbaikan pertanian Indonesia.

Konsep dan visi kedaulatan pangan nasional yang diterapkan pemerintah, seharusnya secara konsisten, terpadu, dan terencana untuk menstabilkan harga, tanpa efek yang dapat merugikan petani kita, yang juga harus diakui besar peranannya dalam menyumbangkan devisa, pendapatan asli negara serta pajak yang merupakan salah satu komponen bagi pembiayaan negara. Kalau sedikit-sedikit mengambil langkah impor, saling menyalahkan, lantas kapan negara ini bisa maju? Hilangkanlah langkah-langkah destruktif yang berpotensi mengeliminasi kebanggaan lokal dan nasional, agar semuanya bisa diatasi dengan dewasa. Kalau kita bergantung ke import, saya yakin, sampai kapanpun Indonesia kita akan dijadikan alat permainan bagi para oportunis , tengkulak alay dan broker nakal. Yang diuntungkan tentunya hanya pihak-pihak tertentu. Kenapa kita tidak mencoba berpemikiran kreatif dengan memulai pendataan, pembagian area tanam, pengaturan masa tanam dan penanganan pasca panennya serta terobosan-terobosan yang bisa membuat produk pertanian serta peternakan kita jadi produk unggulan yang tahan lama, aman dan sehat untuk dikonsumsi??

Benar kata beberapa ekonom dan expatriat kita, apapun masalahnya, manajemen solusinya. Kenapa kita tidak mencoba langkah-langkah awal untuk penataan pertanian dan peternakan kita? Selama ini dari pengamatan saya, belum ada imej yang mengarah ke hal tersebut.

Langkah- langkah advokasi terhadap kearifan lokal dalam penyusunan draft kebijakan, sangat minim. Pilosofi jawa yang sabar dan kreatif, seakan hilang di jiwa pemimpin-pemimpin kita yang rata-rata orang jawa. Marilah obrolan singkat kita ini jadi dasar bagi Indonesia kita yang visioner di kedepan hari. Salam Indonesia abadi.