Kekuatan Cinta

Oleh : Drs Aman Widodo,M Kes
Oleh : Drs Aman Widodo,M Kes (Penulis adalah seorang PNS di lingkungan Pemkab Brebes. Jabatan sekarang sebagai Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Brebes)

 

Cinta itu dasarnya memberi, berkorban dan membahagiakan. Seseorang yang punya cinta akan merasa senang dan bahagia bila dia mampu memberi perhatian, mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membuat senang yang dicintainya. Itulah kekuatan cinta. Suami isteri yang saling mencintai akan saling menyayangi dan ingin saling membahagiakan. Orang tua yang mencintai anaknya akan selalu memberi perhatian dan berusaha mencukupi kebutuhannya. Kakek atau nenek akan sangat bahagia bila melihat cucu yang dicintainya senang dan gembira.

 

Cinta bisa meneduhkan tapi juga menggelorakan dan membakar. Cinta dapat menimbulkan berbagai perasaan yang bermacam-macam. Dalam cinta ada pengertian, pengorbanan, rasa ingin memberi, tapi, dalam cinta ada juga rasa takut akan kehilangan dan juga rasa cemburu.

 

Bagaimana cintanya Allah kepada manusia? Subkhanallah, karena Dialah Dzat yang paling sayang kepada mahluk-Nya. Meskipun ada manusia yang melupakan atau menentang-Nya, tetap Allah memberi mereka ruang udara untuk bernafas, air untuk diminum dan segala kebutuhan manusia lainnya.

 

Lalu, bagaimana cinta kita kepada Allah? Kenyataan bahwa masih banyak manusia yang lupa kepada Allah. Banyak hal yang membuat kita sibuk dan lupa kepada Allah, dan banyak anugerah yang malah membuat kita lupa bersyukur kepada-Nya! Bagi mereka yang tingkatannya sudah dapat mencintai Allah, sungguh merekalah orang-orang yang berbahagia, karena bagi mereka Allah adalah segalanya. Jika bagi sebagian orang beribadah dipandang sebagai kewajiban, maka bagi mereka ibadah adalah sarana berhubungan langsung dengan Allah, sehingga mereka akan menjalani ibadah yang diperintahkan Allah dengan khusyu dan senang hati.

 

Ada kisah tentang seorang sufi yang cintanya mabuk kepayang kepada Allah. Kecintaannya kepada Allah terpahat kuat di dalam hatinya, terpatri di dalam sumsum sanubarinya. Dia adalah Rabiah Al Adawiyah. Ibadah yang ia lakukan adalah semata-mata sebagai ungkapan rasa cintanya. Dia mengharap semua orang berlaku demikian juga kepada Allah. Bahkan bila perlu surgapun akan dia bakar dan neraka akan dia siram agar semua orang beribadah kepada Allah bukan karena takut pada neraka atau karena mengharap surga, melainkan semata karena cintanya kepada Allah. Itulah dahsyatnya kekuatan cinta.

 

Bagi kita, karyawan atau pegawai negeri, untuk dapat menjalankan pekerjaan yang diamanatkan kepada kita, maka yang harus dilakukan adalah dengan mencintai pekerjaan kita, sehingga akan muncul perasaan ikhlas dalam bekerja tanpa mengharap motif lain dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Dengan mencintai pekerjaan akan mampu memotivasi diri, mendorong potensi yang dimiliki, sehingga hasil akhir sangatlah memuaskan. Marilah kita mulai mencintai pekerjaan kita, karena itu akan menimbulkan suasana riang gembira dalam bekerja, meniadakan motif lain (korupsi) dalam pekerjaan sekaligus memperoleh hasil yang memuaskan, dan kita akan selamat dunia akherat. Amin.

 

Beri Komentar