Batu Akik Pancawarna Ini Berasal Dari Sumur Kembang Keramat

Pemalang,Kualitasnews.com-  Mitos tentang “Sumur Kembang” dan penemuan batu akik panca warna coba diviralkan oleh anggota Jurnalistik TMMD Reguler 104 Kodim 0711 Pemalang. Sumur masih dikeramatkan oleh sebagian warga masyarakat Jatiroyom Kecamatan Bodeh dan sekitarnya sebagai sumur penyembuh.

Perigi ini tepatnya berada di belakang pekarangan rumah Saefudin (48) Dusun Jatiroyom Rt. 09 Rw. 03 dan tepat berada di samping Kali Genteng yang mengalir dari wilayah Pekalongan ke Jatiroyom Kecamatan Bodeh. Dulunya sendang atau empang yang airnya tak pernah habis. Air dari perigi masih dipercaya segenap masyarakat sekitar Jatiroyom sebagai penyembuh dari segala macam penyakit jika diminum serta membasuh muka,minggu (10/03).

(Batu akik pancawarna ini konon katanya berasal dari hasil ritual disumur kembang keramat jatiroyom pemalang,menurut sumber).

Di sumber ini juga pernah salah satu warga, Almarhum Mar’adi (70) mantan Demang Pasar Jatinegara Kabupaten Tegal, mendapatkan batu pancawarna secara gaib namun nyata terwujud fisiknya hingga sekarang.

Diterangkan Adi Sumitro (36), Kasi Pemerintahan Desa, anak kandung Almarhum bahwa, dirinya pernah diberi 3 biji batu pancawarna oleh ayahnya sebelum meninggal, namun keberadaannya kini tidak tahu dimana.

“Bapak pernah berpesan kalau umur saya genap 35 tahun atau lebih, akik akan kembali jika berjodoh dengan saya. Untuk khodamnya seingat saya yang bapak bilang sebagai kharisma,” ungkapnya kepada Serka Aan Setyawan, anggota Jurnalistik TMMD asal Kodim 0713 Brebes, melalui whatsapp.

Satu dari tiga batu tersebut akhirnya ketemu setelah dicari di rumah atas permintaan Aan Setyawan. Sersan juga meminta kepada Adi Sumitro untuk mendokumentasikan pancawarna bersama asalnya yaitu sumur kembang. “Ini dari bapak yang didapat dari sumur kembang sebelum meninggal dan hilang. Alhamdulilah sudah kembali Mas Aan,” imbuhnya.

Terlihat di samping lubang, beberapa syarat untuk ritual yaitu rokok praoe lajar, kembang melati, sirih dan pinang. “Ini tadi malam ada yang minta Mas Aan, tapi tidak tahu mintanya apa. Soalnya terkadang orang kesini mintanya yang lain,” tutur penutup Adi Sumitro. (BJ/KN2/red).