Meski Kekeringan,Sumur Bor Jaman Belanda Ini Tetap Keluar Air

Brebes,Kualitasnews.com- Desa Sawojajar kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merupakan salah satu desa yang mempunyai garis pantai Laut Jawa. Sebagian besar penduduknya adalah petani tambak dan nelayan.

Uniknya, Desa Sawojajar disaat musim kemarau yang terbilang cukup panjang dan mengakibatkan beberapa daerah di Kabupaten Brebes yang mengalami kekeringan melanda. Namun, didaerah tersebut terdapat sumur bor yang masih tetap mengeluarkan air.

Salah satu warga Sawojajar, Unaenah (57), menuturkan bahwa sumur tersebut sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

“Waktu saya kecil sudah ada sumur ini, yang paham betul ceritanya ya nenek saya. Katanya dibangun oleh Belanda,” tuturnya.

Unaenah yang mendapatkan cerita turun temurun dari neneknya itu lebih lanjut menjelaskan bahwa awalnya sumur tersebut dibuat oleh kolonial Belanda untuk penambangan minyak.

“Katanya sih untuk mengambil minyak tanah, tapi keluarnya air dan ditinggal begitu saja,” jelasnya.

Sumur bor tersebut dimanfaatkan oleh warga Sawojajar dan sekitarnya untuk keperluan mandi dan cuci.

“Oleh warga dibangun dan dipakai untuk mandi dan cuci, tapi tidak untuk minum, tiap pagi banyak yang pakai,” papar Unaeni.

Yang akhirnya oleh warga, entah pada tahun berapa itu dibentuk bangunan ruang prisma segitiga berukuran 2×4 meter dengan tinggi 1 meter. Sekaligus dibangun enam kolam penampungan yang setiap pagi digunakan oleh warga untuk keperluan mandi dan cuci.

Beberapa warga yang dekat dengan lokasi sumur bor memanfaatkan sumber air itu dengan cara disalurkan melalui pipa pvc berukuran 1,5 inci dan disedot mengunakan pompa air.

Sejarawan Brebes, Wijanarto mengungkapkan, berdasarkan data yang ia peroleh dari sumber kolonial, belum ada data yang kuat kemungkinan Belanda melakukan pengeboran minyak di lokasi sumur bor tersebut.

“Kemungkinan besar untuk mengatasi kekurangan air bersih, karena kita ketahui di daerah pesisir karakteristik airnya payau dan punya problem dengan air bersih,” tegasnya.

Selain sumur bor tersebut, ada juga peninggalan Belanda yakni sebuah rumah mantri pengairan.

“Ini membuktikan, persoalan kekeringan di Brebes menjadi suatu yang penting dan menjadi pertimbangan pemerintah kolonial,” jelas Wijan yang juga menjabat sebagai Kabid Kebudayaan Dinparbud Kabupaten Brebes.

Bukti serius pemerintah kolonial mengatasi masalah pengairan juga bisa dilihat dari beberapa upaya yang dilakukan, yakni dengan membangun infrastruktur pengairan.

“Ada beberapa bangunan untuk mengatasi masalah pengairan, di antaranya waduk Malahayu di Banjarharjo dan Waduk Penjalin di Paguyangan,” jelasnya.

Dijaman kolonial Belanda, juga ada pembangunan infrastruktur pengairan yang ditujukan bagi sektor industri perkebunan terutama tebu dan juga pembangunan infrastruktur irigasi di Kecamatan Songgom yakni bendungan Dandang Gondang dan pintu air Songgom.

“Kita lihat ada pabrik gula yang potensial di wilayah Brebes, yakni di Jatibarang, Kersana dan Banjaratma,” kata Wijan.

Jejak sejarah tersebut, seakan disimpulkan bahwa sejak jaman Belanda, pemerintah kolonial lebih bisa mengatasi permasalahan kekeringan dari pada pemerintah jaman sekarang. (Dedi.A/KN3)

Bagikan segera
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Beri Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *